Rabu, 14 Oktober 2015

Surat Terakhir Untuk Bry

Bry,
Landak mini yang lugu,
Tatapan matamu lucu,
terkadang sayu.
Tingkahmu kayak asu,
Bikin emosi, tapi lucu.

Kau temanku yang bodoh,
Ketika kelaparan, kau mondar-mandir ke setiap sudut kandang,
Menunggu makanan tuk secepatnya datang.
Terkadang,
Seharian penuh kau tak makan,
Tapi kau tak meradang.

Di tengah dinginnya malam,
Kau hanya bisa meringkuk di sudut kandang,
Dengan bulu-bulu lucumu menggigil,
Kedinginan.

Bry,
Walau tak seharian kau tak kuberi makan
ataupun minuman,
Kau tak pernah marah.

Atau kau tak bisa marah?
Kenapa kau tak marah, Bry?

Gigit saja jidatku,
Tusuk saja aku,
Dengan bulu-bulumu yang tajam,
Menghujam,
Karena aku memang kejam, Bry.

Maafkan Bry,
Karena aku tak sempat untuk,
berbagi waktu,
berbagi cerita,
berbagi kasih denganmu.

Karena aku tau,
Walau kau hanya seekor hewan bodoh,
Kau tetap makhluk hidup,
Kau tetap ciptaan Yang Kuasa,
Kau tetap memiliki rasa.

Sekarang Bry yang malang telah pergi,
Tinggalkan kenang tuk mencari arti,
Dalam ruang yang abadi.

Kini kau telah tenang dalam bayang-bayang
yang terbias terang.
Jiwamu terbang bersama kunang-kunang.
Segala resahmu hilang.
Lenyap ke dalam remang bintang-bintang.

Selamat jalan, Bry.
Tak akan lagi kau temukan orang yang mampu membuatmu menahan lapar.
Aku percaya itu.



(Duri, Riau – 12 Oktober 2015)






Di Dalam Sebotol Ciu

Di dalam sebotol ciu;

kau menjelma menjadi simfoni-simfoni indah

yang mengalir perlahan

di setiap sel dan jaringan tubuhku.

Kau rasuki aku,

Kau racuni aku,

Kau cumbu aku,

Kau membuatku melayang,

Hingga jiwaku terbang,

Bersama kunang-kunang,

Bersama bintang-bintang,

Bersama kenang-kenang,

Bersama terang-terang,

Terang remang-remang,

Remang kenang-kenang,

Kenang tingkah jalang.

Kenang cinta yang hilang.



Dicky Cahyadi
Duri - Riau, 1 Oktober 2015





Minggu, 27 September 2015

Angin Malam

Semalam kudengar desahanmu
merambat di sela dinding-dinding kamar
yang dingin,
Sungguh sangat mengganggu aku yang
sedang sibuk bersenda gurau dengan
desauan angin.

Sang angin memintaku:
"Ambillah sebuah gitar, ciptakan sebuah
lagu untukku."

Kuterima tantangan sang angin,
Kuambil sebuah gitar yang penuh
dengan sarang laba-laba,
Gitar yang terakhir kali kumainkan
bersamamu, tentang lagu-lagu yang
pernah kita ciptakan berdua.

"Ciptakan inspirasi untukku,
kepalaku sedang mumet dipenuhi oleh
kenang-kenang yang tak kunjung hilang,"
pintaku kepada angin.
Lalu sang angin meniup wajahku pelan-pelan.

Rinduku hanyut dalam silirnya angin malam,
Terpejam mataku, dinginnya malam
membawaku ke lantunan nada-nada minor,
yang dengan sendirinya bercerita,
di antara jari-jari tangan yang berpadu
dengan dawai-dawai gitar yang berdebu.

Semakin malam, semakin larut jiwaku
berdendang bersama angin malam.
Suasana yang begitu aku rindukan
di saat kelam dan hampir terpejam.
Suara-suara indah mengiringi
malam ini menuju pagi.

Syahdu, sendu, dan rindu menjadi satu.

Hingga,
Tak kuingat lagi suara desahanmu,
Tak kuingat lagi kepergianmu,
Tak kuingat lagi tentang luka di hati,
bahwa kini kau sedang berbagi desah
dengan yang lain.
Aku mulai menikmati setiap waktu
bersama silir angin malam, nada-nada kelam,
yang tersulam di balik diam.

Sudah hampir jam tiga pagi,
Perlahan-lahan suara angin berhenti bernyanyi,
Kulihat sang angin tertidur di sela-sela ketiakku,
"Indah sekali tidurmu," batinku.

Suasana pun menjadi sunyi,
Kuletakkan gitar, terdiam ku merebah
dan melamun,
Sayup dari balik dinding-dinding kamar
yang dingin;
Kudengar suara tangisan lirih.

Astaga, ternyata yang kudengar
semalam bukan suara desahan,
melainkan suara tangismu yang
terpantul di atas
genangan-genangan kenangan
di sudut kamarmu.

Walau begitu,
Kuurungkan niatku untuk mengumpulkan
genangan-genangan airmata kamu,
seperti yang biasa aku lakukan -dulu-
saat aku masih suka berteduh di bawah mata kamu
ketika musim penghujan tiba.

Untuk malam ini dan seterusnya,
Aku mulai mencintai angin malam.



Dicky Cahyadi
Duri, Riau, 27 September 2015





Doa Kesepian

Berilah kami rejeki pada hari ini
dan ampunilah kehampaan kami
seperti kami pun mengampuni
yang meninggalkan kami dalam kesepian
yang melemahkan kekuatan
yang meredupkan harapan

.....

dan bebaskanlah segala kenangan
dari yang jahat

Amin.



- Dicky Cahyadi -
(Duri, Riau - 23 September 2015)



Sungai Siak

Bila Sungai Siak adalah sungai terdalam,
Maka jalan menuju palung hatimu adalah
lautan terdalam yang pernah aku selami,
sayang.

Aku tenggelam dalam dingin.


(Pekanbaru, 23 Juli 2015)





Bila Akhirnya Kamu Memilih Pergi

Dan bila akhirnya kamu memilih untuk pergi,

Pergilah bersama puisi-puisi kecilku.

Biar ada yang menemanimu minum hazelnut,

Ketika engkau larut dalam senja dan penat.


(Pekanbaru, 23 Juli 2015)





Obituari Rasa

"Yang fana adalah waktu.
Kita abadi," kata Sapardi.

Merangkai sepi demi sepi,
menjadi sekuntum bunga mawar merah
yang mekar merekah,
padahal tangkainya berdarah.

Sampai pada suatu waktu,
semua jadi tak menentu.

"Yang fana adalah kamu.
Kita adalah rindu,
yang perlahan-lahan pergi,
lalu mati,"
bisik Cahyadi.


(Dicky Cahyadi - Jogja, 21 Juni 2015)

terinspirasi puisi 'Yang Fana Adalah Waktu' karya Prof. Sapardi Djoko Damono.