Ribuan sinestesi terangkai kala ku tatap
siluet tubuhmu di balik fotosfera ini,
sementara kamu sibuk melemparkan
seikat pun sekuntum senyuman.
Sepanjang musim kamu hanya bisa tersenyum,
bermain bersama delusi-delusi berkesinambungan,
berdiskusi bersama bayangan,
tatkala tak ada rindu yang datang, kamu masih tersenyum.
Walau dipeluk oleh psikodelia
yang tinggal dalam dirimu,
kamu selalu mencoba untuk bersyukur
dalam raung kesendirian
bersama senyuman-senyuman.
Senyuman yang lebih terang dibanding
cahaya obor yang mereka bawa ketika
mencari diriku yang tenggelam ke dalam matamu,
ke dalam ragamu,
ke dalam rindumu,
ke dalam nafasmu,
ke dalam alam mimpimu.
Satu kebodohan yang selalu aku sesali adalah
sangkaanku bahwa akulah satu-satunya bunga
yang tumbuh di taman mimpimu,
Sementara kamu sang lebah, pasti mencari
madu terbaik yang ada di taman mimpi itu.
"Taman keniscayaan," batinku.
"Siapa saja mereka yang turut membantu
mencari jasadku di taman mimpimu?"
Aku tersentak,
Aku hanya bisa menatap siluet tubuhku
di balik fotosfera ini,
fotosfera senja,
yang didera manja.
Sambil melemparkan seikat pun sekuntum senyuman,
ke dalam tatapanmu.
Aku suka mata sipit kamu,
Sama seperti cahaya bulan sabit -yang bagiku-
merupakan jelmaan dari senyuman-Nya.
Dalam kekosongan, aku berbisik:
"Hal yang paling sakral adalah ketika aku melihat
senyuman-Nya di dalam sinar matamu,
sinar kehidupan."
Lalu aku berdoa.
".............."
"Amin."
(Dicky Cahyadi - Jogja, 27 Juni 2015)
Minggu, 27 September 2015
TIGA WINDU
Tepat hari ini, sudah tiga windu,
................
Dalam imajinasiku, aku masih ingat apa yang terjadi di hari itu.
Kala itu, bapakku yang masih miskin,
miskin akan perhiasan uban di kepalanya,
mengajakku bersenda gurau dengan kata-kata lucu.
Kala itu, ibuku yang sudah kaya,
kaya akan rasa sakit selama 8 bulan aku tendang dinding rahimnya,
mengajakku bercerita tentang cinta.
Selayaknya bayi yang baru lahir, aku hanya bisa menangis.
"Dicky, jangan menangis terus.
Tidurlah, papa akan senantiasa menjaga tidurmu,"
begitu bisik bapakku di telinga mungilku sebelah kanan.
Sementara ibuku memberi ASI kepadaku,
sembari mengelus-elus kepalaku yang masih botak,
sesekali mencium jidatku yang hampir penuh dengan barisan puisi.
Kemudian aku pun terlelap. Pulas sekali.
Mungkin hanya putri salju yang bisa membangunkanku dengan mencium bibirku.
Dalam tidurku, aku menjelma menjadi seorang remaja tampan.
Aku menikmati keindahan alam semesta.
Menikmati puncak gunung dan masuk ke dalam goa.
Aku belajar tentang peleburan rasa,
tentang mencintai dan dicintai.
Aku belajar tentang memiliki dan kehilangan.
Memiliki banyak sahabat yang seperti asu,
pun tentang musuh-musuh yang pandai berpura-pura baik.
Aku belajar merasakan kasih sayang dan dosa,
Tentang nikmatnya rindu dan rintik hujan,
Tentang syahdunya tangga nada E Minor,
sampai tentang tatapan mata dan kata-kata puisi.
Juga tentang populasi harimau yang semakin sedikit.
Tentang orangutan yang semakin langka.
Tentang hujan tropis yang berubah menjadi asap dan abu.
Tentang keindahan gunung yang dijadikan ajang komersialisasi.
Atau tentang kasus korupsi FIFA, di mana para pelakunya -mungkin- merasa iri
dengan Indonesia yang hebat ini, karena bisa memberikan praperadilan terhadap para tersangka koruptor.
Bukan itu saja,
Mimpiku yang paling buruk adalah ketika aku mengetahui
bahwa negeri ini mempermainkan nyawa orang lain di Nusakambangan,
Atau mungkin tentang Maya dan Angeline yang meninggal dengan tidak wajar.
Iya, panjang sekali mimpiku.
Mungkin aku dilahirkan memang untuk menjadi seorang pemimpi.
Sepanjang-panjangnya mimpiku tentang kehidupan ini,
masih lebih panjang kasih sayang yang diberikan orangtua kepadaku.
Kunikmati mimpi demi mimpi,
Kunikmati ide demi ide,
Kunikmati rasa demi rasa.
Namun tiba-tiba ada suara yang mengagetkanku:
~ Kriiinnggg ...... Kriiiinnggg ...... Kriiiiinnggg ~
~ Kriiinnggg ...... Kriiiinnggg ...... Kriiiiinnggg ~
Jam wekerku berbunyi keras sekali.
"Asu, sudah jam 9, aku kesiangan," seruku.
Segera kuambil handuk dan bergegas mandi.
Setelah tiga windu menikmati mimpi demi mimpi,
aku kesiangan untuk menentukan masa depanku.
................
(Dicky Cahyadi - Jogja, 13 Juni 2015)
Sabtu, 28 Februari 2015
Airmata Senja
Awan mendung;
Awan terangkai awan
Menjadi gumpalan hitam yang tadinya putih
Seakan langit mampu menopangnya sendiri
~
Awan memangku awan
Tak ada yang tahu seberapa kuat langit menahan
Sampai airmata itu berjatuhan.
Awan terangkai awan
Menjadi gumpalan hitam yang tadinya putih
Seakan langit mampu menopangnya sendiri
~
Awan memangku awan
Tak ada yang tahu seberapa kuat langit menahan
Sampai airmata itu berjatuhan.
Beban Kehidupan:
Beban terangkai beban
Menjadi cerita kelam yang terlebur perih
Seakan hati mampu menopangnya sendiri
~
Beban memikul beban
Bila tak dilepaskan, pun beban takkan tertahan
Sampai airmatamu berjatuhan.
Kinanti;
Tak usah kau cari cahaya sore ini
Awan pun tak mampu memikul beban
Fotosfera itu hanyalah cerita
dari mereka yang mencari senja
Rintik-rintik ini;
Ku genggam payung di sudut nestapa
yang hanya cukup untuk berdua
Tapi jiwamu memilih pergi
Ke tengah derasnya gulana
Dan Kekasih:
Airmata senja membasahi alun-alun denggung
Tetapi kemarau di pundakku menetap
Sebab di Sabtu sore
Engkaulah hujan yang selalu aku nantikan.
-Dicky Cahyadi-
Sabtu sore, 28 Februari 2015
Par asu t
Parasutku adalah parasutku
Parasutmu adalah parasutmu
~ Terbanglah sebebas-bebasnya bebas ~
Kita tahu
Parasut kita takkan pernah bertemu
Sampai kita berpulang
Bersama senja yang kita rindu
-
(Landas Pacu Paralayang, Bukit Parangndog, Parangtritis, 21 Februari 2015)
Kunang-Kunang
Di ufuk barat,
senja begitu menawan.
Mari persiapkan dian,
tuk terangi malam tuan.
Sementara utara Jogja semakin kelam,
tertutup awan berawan angan.
Tak usah kau cari.
Di balik awan,
Merapi sedang mencumbu merbabu.
~~~
Tak usah kau kenang.
Di balik angan,
Sukmanya hilang dalam cumbu sang malam.
~~~
Memang berat untuk dikenang,
Yang kau butuhkan hanya seekor kunang-kunang,
Tuk menemanimu memberi terang,
Tuk menemanimu di riak genangan,
.................................
.................................
(setetes demi setetes)
Sepanjang malam, kawan.
-dicky cahyadi-
Minggu, 01 Februari 2015
Suatu sore di Jakarta Selatan
Duduk manis,
silahkan bercerita.
Duhai nona manis,
yang digenggam derita.
Aku tahu ini miris,
tapi tak apa.
Daripada engkau selalu menahan tangis,
sementara mereka tertawa ria.
(Sore itu gerimis, kendaraan macet tertata,
suara klakson berdendang tragis, membahana di ibukota)
Duduk manis,
silahkan bercerita.
Dunia memang sadis,
tanpa mengenal kita.
Seperti hati kaum proletar yang miris,
berjuang di ibukota.
Kau tahu, nona manis?
Ini Jakarta.
(Sebatang rokokku sudah habis,
matanya masih berkaca-kaca)
Tak ada tempat untuk menangis,
tiap jiwa menggenggam cita.
Tak ada ruang bagi pengemis,
yang selalu meminta cinta.
Kau tahu, nona manis?
Ini Jakarta.
Sebagian kaum berlaku pragmatis,
Hidup demi harta dan tahta.
Duhai nona manis,
lepaskan gundah gulana.
Berhenti menangis,
mari bercinta.
dicky cahyadi - desember 2014
Tentang Bayangan
Menyulam diam dalam kelam
Semakin malam semakin dalam
Kunikmati alam bersama daging haram
Dan tenteram, semakin tajam.
Merasuk perlahan dalam angan-angan
Mengukir kenangan bersama teman-teman
Bermain dengan bintang-bintang menyerupai intan
(Kadang, ada yang kelihatan seperti binatang)
Berkilauan sebelum awan hujan
Datang menghapus bayangan
Bayangan yang perlahan hilang
Senyuman yang perlahan terbang
Menuju sanubari kau telanjang
Kau lukis bayangan kita di atas ranjang
Sambil berayun-ayun, engkau bilang,
"Semalam saja, sayang"
Lalu kau hilang
Segala angan-angan tinggal kenangan.
Tak tersisa walau hanya bayangan.
November 2014
Semakin malam semakin dalam
Kunikmati alam bersama daging haram
Dan tenteram, semakin tajam.
Merasuk perlahan dalam angan-angan
Mengukir kenangan bersama teman-teman
Bermain dengan bintang-bintang menyerupai intan
(Kadang, ada yang kelihatan seperti binatang)
Berkilauan sebelum awan hujan
Datang menghapus bayangan
Bayangan yang perlahan hilang
Senyuman yang perlahan terbang
Menuju sanubari kau telanjang
Kau lukis bayangan kita di atas ranjang
Sambil berayun-ayun, engkau bilang,
"Semalam saja, sayang"
Lalu kau hilang
Segala angan-angan tinggal kenangan.
Tak tersisa walau hanya bayangan.
November 2014
Langganan:
Postingan (Atom)